Posts

Showing posts from 2016

dia berkeinginan

bersinar matanya bagai jingga senja menebar ironi di atas bumi keindahan pertiwi tinggal sesaji di aduknya keringat para pekerja harian yang upahnya cukup untuk melunasi kredit motor bulanan kalaulah dia itu adalah pemerintah kurasa bukan, karena dia tidak suka memerintah kalaulah dia itu seorang bos kurasa juga bukan, karena dia tidak semena-mena kalaulah dia bagian dari orang penting mungkin iya, sekedar berpenting dan mementingkan yang penting diberi kepentingan lalu dia berkata: wahai manusia, silakan hidup untuk selamanya dan para manusia menjawabnya: baiklah, kami akan lakukan seperti air yang mengalir, berputar, dan terjun bebas manusia yang diperintahkannya menjadi bulir-bulir air dan akhirnya terjun bebas menyesap ke pori-pori  keinginan dia

do-

ada cermin di antara doa dan dosa hati-hati jangan sesukanya berdoa jangan seenaknya mendosa doa terkadang adalah jelmaan dari dosa seperti cermin ini:  "doa - orang pada tertanggung dosa"

maki

yang lebih segar dari darah orang tabrak lari adalah ludah orang memaki lebih amis dari gosip selebriti lebih encer dari kasus yang tercecer bibir orang memaki lebih mahal harganya dari bibir hotel-hotel dan mal-mal bibirnya bisa memproduksi bermaki-maki kata orang yang dianugrahi rejeki memaki bisa meludah semaunya seludah bisa membuat seribu otak menjadi pandai pandai menggandakan pengandaian andai ludah bisa memaki orang

anak panah

sedari kecil sebelum aku tahu bahwa aku ini kecil aku sudah dipaparkan pada sebuah benda bernama dunia bagiku dia seperti mainan, seperti halnya aku memandang segala hal ketika aku masih kecil bukan karena diberi mainan oleh ibuku tapi ibuku telah mempermainkanku bukannya anak yang dilahirkan setelah dibopongnya selama sembilan bulan aku ini anak yang ditabungnya dari nafsu yang dia manja bersama lelaki kira-kiranya sebetulnya dia sayang padaku, aku tahu tapi sayangnya kasih sayang yang dia punya terlalu mahal sekadar kutukar dengan jeritan yang tiap malam aku dengungkan sejak saat aku sadar bahwa aku ini masih kecil aku memilih untuk tetap mengerdil sejak dini saja daripada tumbuh menjadi sosok imajinasi yang menakutkan yang menggelikan sekaligus yang mengharukan dibilang tidak sanggup pun sebenarnya tidak aku sanggup hanya saja bukan untuk hidup sebagai anak manusia aku ingin hidup sebagai anak panah diasah sedemikian rupa agar seimbang lesatku kelak menelusup ...

Serpihan Bingkai

Aku mulai lupa Hari e sok menyeretku perlahan Mundur dari masa lalu Dan setiap derit kakiku menggores tanpa noda Meski rontaannya memekik hingga aku menua Serpihan bingkai masih saja bisu Tak mau cairkan pelangi bening Tarik-ulur saja tinta hitammu di bajuku Sesukamu Pahitnya akan slalu kupeluk Serpihan tajam yang dulu indah menempel pada nostalgi Kini membuatku tersenyum menahan luka dari tusukan serpihan itu sendiri Setiap potret dirimu, diriku, diri kita Tak kan bangkit dari sepia Tak kan pula kita mampu kembali bersama Air mataku retak oleh tarianmu Dari balik jendela kaca aku dapat melihat Hujan abu dari sebuah pembakaran Hari kemarin

air mata hujan

kalau hujan turun jangan kamu caci ayo kita nikmati berbasah dan meraskan air seperti anak panah mungkin di bawah rinai itu kita bisa menderu tangis kamu bisa melihat dan membedakan mana air mata mana air hujan

debar

menemukan debar yang seirama adalah tanda-tanda getar yang tidak dinyana menghasilkan bulir bianglala di sela-sela cakap kita menjadi jejaring kata-kata memerangkap rasa curiga jangan-jangan aku ingin menciummu?

populasi

bukan hanya manusia yang mengalami ledakan populasi kendaraan bermotor pun jumlahnya tidak terkendali setiap hari jalan raya menstruasi setiap saat udara berpolusi lahan hijau dicari sekadar untuk liburan dan investasi reboisasi salah sasaran bukan penghijauan tapi pengaspalan hijaulah dompet dan rekening para oknum karbondioksida semakin ranum lahirnya sebuah kendaraan penghisap bahan bakar minyak adalah sebuah langkah maju menuju pembusukan

suara

seketika tumbukan kehidupan itu berdentum memenuhi gema hingga suaranya bisa mendengar suara hingga gema saling berebut pantulan dan hinggap di telinga manusia kelahiran serupa kematian perpindahan sua dari dunia ini ke dunia itu masih saja pula berjubel memenuhi ruang hampa suara

rindu

kecamuk rindu makin tebal ketika senandung curiga mendayu melagu bersandar pada keyakinan harapan semakin lebar membentangkan doa dan mimpi kita terjatuh dari angin yang tergesa melayang bersama mega-mega hingga terhempas pada tatapan mata seperti air yang melesap di udara menjadi bulir uap rindu ini lagi dan lagi berputar seperti air

baza

 ini dunia dunia baru aku dunia dunia ini baru dunia                                 tidak biasa                                 kata tidak                                 tidak tersusun                                 menjadi tidak                    ...