Posts

Showing posts from February, 2017

mbah...

mbah, zaman gila sudah terjadi kalabendu sudah diamini mungkin sebentar lagi usai, mbah manusia menggantikan air bah banjir di mana-mana yang dari selokan meluap yang dari kali makin meninggi yang dari laut makin pasang yang dari genangan menguap menjadi serbuk-serbuk hujan lalu saling hempas, saling rampas berebut tempat genang dan menyatulah bumi bukan lagi tanah tapi sudah menjadi lumpur, mbah lumpur darah

kopi pagi

mendengar deru mesin pagi hari bersama secangkir kopi sisa semalam yang masih mengepulkan aroma tanpa uap mendengar klakson kendaraan dan peluit supeltas kurasa makin pahit saja kopi ini atau hanya kurasa saja pahitnya bercerita : tantang buruh kopi dan buruh lainnya tentang mandor kebun dan mandor lainnya tentang tengkulak kopi dan tengkulak lainnya tentang pengolah kopi dan pengolah hal lain pula tentang penjual kopi dan penjual lainnya tentang pembeli kopi dan pembeli lainnya kuresapi hadirnya pekat kopi di tenggorokanku memang pagi ini seperti sisa kelam semalam belum juga tuntas membayangkan bagaimana hari akan menjadi esok malam segera tumpul dan teriris merah fajar belum juga lunas menyetor kredit bulanan hidup ini sudah tergadaikan atau yang lebih fatal, terjual pagi ini sambil mendengar deru mesin bersama kopi yang hampir tandas di bawah sana terlihat samar-samar ampas seperti menggali pusaranya sendiri manusia belajar, bekerja, dan lainnya meneguk p...