seduhan
hidup, adalah konsep dasar paling arbitrer dari apapun yang tercipta
setiap hidup yang hinggap di benak atau pikiran seseorang telah banyak mencampuri kehidupan orang tersebut
dia bebas, terbang lampias
manusia menciptakan tenggeran di atas kepala untuknya
setiap kepala, berbeda gaya dan cara dia hinggap
ada yang mencabut bulunya untuk dijadikan pena
dan menulis kisah atau mimpinya
ada yang melukisnya dengan warna atau kata-kata
dan mengoleksi untuk pribadi atau dijual
ada yang diam-diam mempersiapkan jebakan pada tenggeran agar dapat menangkapnya
lalu menelanjanginya, atau bahkan mengulitinya
dan mengawetkannya sebagai monumen
hidup, merupakan bahan mentah yang cocok diolah dengan apapun yang dikenal oleh manusia
ada kalanya dia dipertanyakan asal dan klausulnya
soal kemana hingga untuk apa
ada pula yang abai terhadap segala tingkah polah pongah dan jigrahnya
mengenai bagaimana kehidupan disandang, dia tidak peduli
karena baginya bukan hanya manusia dan binatang saja yang hidup
orang dapat melihatnya tertidur di laut atau menemuinya saat dia sedang berdialog dengan hari esok
ketika dia di sana dan tidak sedang bertengger di kepala
nampak dalam benak atau pikiran manusia bahwa di dalam itu adalah benih kehidupan
hidupnya hidup dalam kehidupan manusia cukup untuk menghidupi sejarah dan kisah-kisah
namun sayang, hidup tidak bisa menghidupi dirinya sendiri
apakah hidup harus dihidupi oleh manusia atau makhluk lainnya?
apakah dia lahir dari rahim yang dapat mencetak kehidupan?
keterkiraan yang terkadang tersesat di gang-gang pengetahuan
menumbuhkan rambu-rambu peringatan
terlalu banyak dan teronggok di organ tubuh yang dikanankan
hidup berjalan-jalan menyusuri mereka
dengan lampu cair di dahinya, mendengar kesengajaan suara kehidupan yang sedang birahi
dia mencari lauk untuk dimakan
dan menemukan sebatang manusia tergeletak tak berdaun, kering, tetapi belum mati
kemudian dibopongnya benda rapuh itu, dibawanya pulang
memang bukan lauk yang didapatnya
baginya secangkir seduhan sebatang manusia cukup untuk menghilangkan lelahnya
di lembar-lembar kulit kehidupan yang bertuliskan kisah hidup
di seluruh penjuru dunia dan pikiran manusia
di sini adalah salah satu tempat di mana hidup duduk manis, mengobrol, dan minum seduhan khas dirinya
setiap hidup yang hinggap di benak atau pikiran seseorang telah banyak mencampuri kehidupan orang tersebut
dia bebas, terbang lampias
manusia menciptakan tenggeran di atas kepala untuknya
setiap kepala, berbeda gaya dan cara dia hinggap
ada yang mencabut bulunya untuk dijadikan pena
dan menulis kisah atau mimpinya
ada yang melukisnya dengan warna atau kata-kata
dan mengoleksi untuk pribadi atau dijual
ada yang diam-diam mempersiapkan jebakan pada tenggeran agar dapat menangkapnya
lalu menelanjanginya, atau bahkan mengulitinya
dan mengawetkannya sebagai monumen
hidup, merupakan bahan mentah yang cocok diolah dengan apapun yang dikenal oleh manusia
ada kalanya dia dipertanyakan asal dan klausulnya
soal kemana hingga untuk apa
ada pula yang abai terhadap segala tingkah polah pongah dan jigrahnya
mengenai bagaimana kehidupan disandang, dia tidak peduli
karena baginya bukan hanya manusia dan binatang saja yang hidup
orang dapat melihatnya tertidur di laut atau menemuinya saat dia sedang berdialog dengan hari esok
ketika dia di sana dan tidak sedang bertengger di kepala
nampak dalam benak atau pikiran manusia bahwa di dalam itu adalah benih kehidupan
hidupnya hidup dalam kehidupan manusia cukup untuk menghidupi sejarah dan kisah-kisah
namun sayang, hidup tidak bisa menghidupi dirinya sendiri
apakah hidup harus dihidupi oleh manusia atau makhluk lainnya?
apakah dia lahir dari rahim yang dapat mencetak kehidupan?
keterkiraan yang terkadang tersesat di gang-gang pengetahuan
menumbuhkan rambu-rambu peringatan
terlalu banyak dan teronggok di organ tubuh yang dikanankan
hidup berjalan-jalan menyusuri mereka
dengan lampu cair di dahinya, mendengar kesengajaan suara kehidupan yang sedang birahi
dia mencari lauk untuk dimakan
dan menemukan sebatang manusia tergeletak tak berdaun, kering, tetapi belum mati
kemudian dibopongnya benda rapuh itu, dibawanya pulang
memang bukan lauk yang didapatnya
baginya secangkir seduhan sebatang manusia cukup untuk menghilangkan lelahnya
di lembar-lembar kulit kehidupan yang bertuliskan kisah hidup
di seluruh penjuru dunia dan pikiran manusia
di sini adalah salah satu tempat di mana hidup duduk manis, mengobrol, dan minum seduhan khas dirinya
Comments
Post a Comment