menyorekan diri

denting dawai iringi pola nyala-padam lampu perempatan
sebuah hiruk pikuk dan beberapa helai lelah
menyorekan keramaian
lagu sumbang pengamen jalanan
distorsi irama dari knalpot dan klakson

"justru pada saat inilah suasana paling hening bagiku"
keheningan laksana pisau pasca asah
keributan jelma laksamana yang gagal
perut, dada, dan leher para prajuritnya berhamburan
di atas masing-masing kepala di perempatan ini

di antara tiga lampu yang tergantung di arena
hanya kuning yang menyala
selalu pijar
tanpa beri kesempatan hijau untuk merimbunkan
agar merah berarti bagi tubuh yang menjadi sesaji

kuningku medan laga
antara padang pasir dan hamparan sabana
tak tenggelam
bahkan hingga bulan sabit di antara sabuk orion
terdampar di sela-sela pandang dan napas yang pengap
kala kepala berhimpit dengan liang cikal
udara jenuh
berlembar-lembar uang berkepala pahlawan berpeluh

menyorekan diri padamu
semoga langit bercadar awan merah jambu
lalu tawa semesta menggemakan ingatan
dan menyadarkan tiap kepala di perempatan
bahwa tumbukkan antara hiijau dan merah tidak perlu diperdebatkan

"terima kasih, semoga perjalanan anda menyenangkan
dan selamat sampai tujuan
sejahtera, banyak anak, dan rejeki
pabila ada salah kata, nada, irama, atau tata krama
saya mohon penjelasan pada maaf yang anda berikan
selamat jalan, dan selamat tinggal
...kawan"

Comments

Popular posts from this blog

seduhan

seharian

sesaat