surat untuk pemuda
seorang pemuda menulis surat untuk pemuda lainnya
di waktu yang akan datang:
"kepada yang tersayang"
wahai pemuda yang telah disayangkan kehadirannya
sayang sekali surat ini kutuliskan untukmu
aku ingin menyampaikan salam dari para pemuda di masaku
kata mereka, "pemuda sekarang sudah terlalu tua"
jadi jangan sia-siakan mudamu yang sudah tua
karena di masaku para pemuda sudah beruban dan berubin
wajah kami dikeramik agar mulus dan bagus
badan kami dikeramik agar indah dan mewah
pikiran kami dikeramik agar cemerlang
hati kami... entahlah, tidak ada pabrik yang memproduksi keramik untuk hati
kalau ada yang mau harus membuatnya sendiri
bagaimana dengan pemuda di masamu?
apakah uban sudah digunduli dan diplester dengan aspal?
apakah keramik sudah dicongkel dan diganti dengan pepohonan?
sebenarnya kami ingin sekali berkebun di tubuh kami
tapi sayang, pabrik hanya memproduksi material bangunan
tidak ada pabrik yang memproduksi pohon
wahai pemuda yang akan disayangkan kehadirannya
sayang sekali kalian menjadi muda
muda yang sudah tua
umurmu pendek dan terpasung ambisi dan ramalan kitab-kitab
andai mudaku yang kini mulai layu dapat tersirami api perlawanan
seperti saat dahulu kala para pemuda yang melawan penjajah
aku ingin melawan ramalan dengan oksigen yang dapat dihirup oleh seluruh manusia
namun, saat menulis surat ini
kakiku diborgol kekolotan kepentingan penguasa
baik itu penguasa tanah, air, bahkan udara
leherku dibelenggu kebutuhan
baik itu makanan berpengawet hingga minuman berkarbon
belum lagi dengan kelompok-kelompok pemicu kata-kata dalam ramalan
ah.... sayang sekali pemuda yang akan disayangkan kehadirannya
pemuda di masaku memupuk tumbuhnya pemuda di masamu
dengan limbah dari industri kemajuan zaman
dan semakin dekat pula dengan zaman yang menjemukan
dari pemuda sebelum masa mudamu: mandor sekaligus kuli pabrik
di waktu yang akan datang:
"kepada yang tersayang"
wahai pemuda yang telah disayangkan kehadirannya
sayang sekali surat ini kutuliskan untukmu
aku ingin menyampaikan salam dari para pemuda di masaku
kata mereka, "pemuda sekarang sudah terlalu tua"
jadi jangan sia-siakan mudamu yang sudah tua
karena di masaku para pemuda sudah beruban dan berubin
wajah kami dikeramik agar mulus dan bagus
badan kami dikeramik agar indah dan mewah
pikiran kami dikeramik agar cemerlang
hati kami... entahlah, tidak ada pabrik yang memproduksi keramik untuk hati
kalau ada yang mau harus membuatnya sendiri
bagaimana dengan pemuda di masamu?
apakah uban sudah digunduli dan diplester dengan aspal?
apakah keramik sudah dicongkel dan diganti dengan pepohonan?
sebenarnya kami ingin sekali berkebun di tubuh kami
tapi sayang, pabrik hanya memproduksi material bangunan
tidak ada pabrik yang memproduksi pohon
wahai pemuda yang akan disayangkan kehadirannya
sayang sekali kalian menjadi muda
muda yang sudah tua
umurmu pendek dan terpasung ambisi dan ramalan kitab-kitab
andai mudaku yang kini mulai layu dapat tersirami api perlawanan
seperti saat dahulu kala para pemuda yang melawan penjajah
aku ingin melawan ramalan dengan oksigen yang dapat dihirup oleh seluruh manusia
namun, saat menulis surat ini
kakiku diborgol kekolotan kepentingan penguasa
baik itu penguasa tanah, air, bahkan udara
leherku dibelenggu kebutuhan
baik itu makanan berpengawet hingga minuman berkarbon
belum lagi dengan kelompok-kelompok pemicu kata-kata dalam ramalan
ah.... sayang sekali pemuda yang akan disayangkan kehadirannya
pemuda di masaku memupuk tumbuhnya pemuda di masamu
dengan limbah dari industri kemajuan zaman
dan semakin dekat pula dengan zaman yang menjemukan
dari pemuda sebelum masa mudamu: mandor sekaligus kuli pabrik
Comments
Post a Comment