ADILOKAWIGNA

Beberapa hari aku menjadi kalajengking
Merayapi malam dan mencari kesenangan
Kemarin aku mencoba menjadi laba-laba
Merajut benang-benang harapan
Dan menerawang mangsa-mangsa
Mereka bilang aku bangsat
Mereka bilang aku laknat

Tadi pagi, ketika kulit-kulitku mimikri
Menyerupai manusia
Dari kulit kaki, kulit tangan, hingga kulit kepala
Menjadi manusia yang seutuhnya

Siang hari aku tertidur di bawah pohon beringin
Teriknya matahari, sepoi angin, membawaku melayang
Aku dapat melihat tubuhku ditumbuhi akar
Hanya akar
Di atas sini, di palung mimpi aku bertemu mengsaku
Yang kusengat ketika ia lengah
Yang terjerat harapanku
Yang kurebus seusai mimikri
Mereka mengatakan padaku
Tanpamu dunia ini tidak akan dianugerahi musim-musim
Tanpamu tak akan terpenuhi bahan bakar hari abadi
Tanpamu segala rasa yang kami kenal hanyalah sebuah hambar

Dan dunia ini hanya terkulai disudut ruang daur ulang limbah
Segalanya berputaran, saling menjalin, merangkai jaringan, terhubung, mempengaruhi satu sama lain tanpa kenal ujung benang merah
Hingga setitik debu dari alam baka menempel pada bumi, ruang daur ulang limbah tetap menjadi tempat pemungutan

Sedari awal kapital terlambang
Pewayangan ini dimulai
Titik yang menjadi misteri
Tak kan terlihat oleh mata blencong sekalipun

15-09-2014 | Adhimas Setya Dewangga


Comments

Popular posts from this blog

seduhan

seharian

sesaat